Kabar gembira bagi masa depan penyelenggaraan haji Indonesia. Di tengah tren global kenaikan biaya akomodasi di Tanah Suci, pemerintah Indonesia melalui Danantara melakukan manuver cerdas: membeli hotel dan lahan sendiri di Mekah.
Langkah ini bukan sekadar investasi properti, melainkan strategi jangka panjang untuk memangkas biaya haji yang selama ini membebani jemaah.
1. Strategi “Kantong Kiri Masuk Kantong Kanan”
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyebut langkah ini akan berdampak langsung pada penghematan biaya. Mengapa? Karena uang jemaah tidak lagi “terbang” ke pengusaha asing, melainkan berputar di ekosistem ekonomi bangsa sendiri.
“Secara makro akan mengurangi cash outflow karena biaya akomodasi hotel yang selama ini masuk ke hotel-hotel luar akan masuk ke ekosistem ekonomi kita sendiri, artinya keluar kantong kanan masuk kantong kiri,” jelas Dahnil (19/12/2025).
Dengan memiliki aset sendiri, devisa negara bisa diselamatkan, dan harga paket haji berpotensi ditekan menjadi lebih terjangkau.
2. Apa Saja yang Dibeli Indonesia?
CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan detail aset “jumbo” yang baru saja diakuisisi di kawasan Thakher City, lokasi yang strategis dan tidak jauh dari Masjidil Haram:
- Novotel Makkah Thakher City: Hotel yang sudah beroperasi dengan kapasitas 1.461 kamar.
- Lahan Seluas 4,4 Hektare: Terdiri dari 14 bidang tanah strategis.
- Potensi Pengembangan: Lahan ini diproyeksikan mampu menampung pengembangan hingga 5.000 kamar.
3. Kapan Dampaknya Terasa?
Meski antusiasme tinggi, pemerintah tetap realistis. Dahnil memperkirakan dampak penurunan biaya dan penggunaan optimal aset ini kemungkinan besar baru bisa dirasakan penuh pada musim haji tahun 2027.
Saat ini, fokus pemerintah adalah memastikan tata kelola yang prudent (hati-hati) dan melakukan kajian kelayakan untuk pengembangan tahap selanjutnya di atas lahan 4,4 hektare tersebut.
Kesimpulan: Kemandirian di Tanah Suci
Langkah ini adalah babak baru kemandirian haji Indonesia. Dengan menguasai aset akomodasi, negara tidak hanya menekan harga, tetapi juga memiliki kendali penuh atas standar kenyamanan pelayanan bagi “Dhuyufurrahman” (Tamu Allah) asal Indonesia.
Investasi ini adalah bukti keseriusan pemerintah menjamin kenyamanan ibadah sekaligus menjaga “dompet” jemaah di masa depan.

