Bayangkan lelahnya berdiri berjam-jam di ruang operasi, bertaruh nyawa menyelamatkan pasien. Bagi kebanyakan orang, setelah shift panjang itu berakhir, kasur empuk adalah tujuan utama.
Namun tidak bagi Dr. Abdullah Allam.
Bagi Konsultan Bedah di RS King Fahd Madinah ini, berakhirnya tugas di rumah sakit adalah permulaan bagi tugas mulia lainnya. Selama 12 tahun terakhir, ia menjalani peran ganda yang luar biasa: sebagai dokter ahli di siang hari, dan guru Al-Qur’an di Masjid Nabawi pada malam hari.
Janji Suci untuk Sang Ibu
Apa yang membuat seorang dokter spesialis super sibuk rela meluangkan waktu setiap malam? Jawabannya bukan uang, bukan ketenaran, melainkan bakti kepada Ibu.
Semuanya bermula ketika ibunda tercinta wafat 12 tahun silam. Semasa hidup, sang ibu memiliki satu impian besar: melihat putranya mengajar Al-Qur’an di lingkungan suci Masjid Nabawi.
Sepeninggal ibunya, Dr. Allam tak ingin harapan itu terkubur bersama jasad. Ia bangkit dan bertekad mewujudkannya.
“Untuk menghormati keinginan ibu saya dan menghadiahkan pahala untuknya, saya mulai mengajarkan Qira’at di sini,” ucap Dr. Allam dengan mata berkaca-kaca.
Disiplin Baja: 12 Jam Operasi, Lanjut Mengaji

Rutinitas Dr. Allam bukanlah hal yang ringan. Seringkali ia baru saja menyelesaikan shift 12 jam penuh tekanan di rumah sakit. Namun, rasa lelah itu seolah sirna begitu ia melangkahkan kaki memasuki gerbang Masjid Nabi.
Bahkan, rutinitas ini tak pernah putus meski ia pernah menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit. Di tengah puncak karirnya, ia tetap duduk bersila, menghadapi murid-muridnya dengan sabar.
“Memang menantang, tetapi ini adalah berkah dari Allah,” ungkapnya sederhana.
Mengajar Ilmu Langka di Tempat Mulia
Kelas yang ia ampu pun bukan kelas biasa. Dr. Allam mengajarkan Ten Qira’at (10 Qira’at), sebuah metode pembacaan Al-Qur’an tingkat lanjut dengan berbagai gaya pelafalan yang bersanad.
Kehadirannya di sudut Masjid Nabawi menjadi magnet bagi para penuntut ilmu dari seluruh dunia. Di sanalah, di bawah payung-payung raksasa Madinah, warisan ilmu dan pahala jariyah terus mengalir—untuk murid-muridnya, untuk dirinya, dan tentunya untuk almarhumah ibunya.
Sebuah Tamparan Halus untuk Kita Kisah Dr. Abdullah Allam mengajarkan kita satu hal: “Sibuk” hanyalah alasan.
Jika seorang dokter bedah yang memegang nyawa pasien saja masih sempat memuliakan Al-Qur’an dan berbakti pada orang tua, bagaimana dengan kita?
Semoga kisah ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk menyempatkan waktu—bukan menyisakan waktu—bersama Al-Qur’an.

