Menu

Alissa Wahid: Negara Punya “Utang” pada Jemaah Lansia

Menunggu antrean haji selama puluhan tahun adalah ujian kesabaran. Namun, konsekuensinya nyata: jemaah tiba di Tanah Suci dalam usia senja. Apakah sistem kita sudah benar-benar siap memuliakan mereka?

Isu krusial ini menjadi sorotan utama dalam persiapan Haji 2026. Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga PBNU, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, menegaskan bahwa negara tidak boleh sekadar menambah fasilitas, tetapi harus merombak cara pandang pelayanan secara total.

Dalam pembekalan petugas haji (PPIH) di Jakarta, Selasa (20/1/2026), Alissa menyampaikan pesan menohok: Jemaah lansia dan kebutuhan perempuan bukanlah “beban”, melainkan tanggung jawab mutlak yang harus dilunasi negara.

Berikut tiga poin penting revolusi pelayanan haji yang disuarakan Alissa Wahid:

1. Lansia Berangkat adalah Konsekuensi, Bukan Pilihan

Alissa mengingatkan bahwa banyaknya jemaah lansia adalah akibat langsung dari antrean haji Indonesia yang sangat panjang. Oleh karena itu, negara tidak berhak mengeluh atau membebankan adaptasi kepada jemaah yang sudah renta.

“Ramah lansia itu artinya seluruh mekanisme harus disiapkan sesuai kebutuhan mereka. Mulai dari pendampingan, akomodasi, hingga mitigasi saat fisik mereka tak lagi kuat,” tegas Alissa.

Ia menyebut frasa yang menggugah: “Ini bukan sekadar program kementerian. Ini utang pelayanan negara kepada para lansia yang sudah mendapat giliran berhaji.”

2. Saudi Belum “Ramah Perempuan”, Kita yang Harus Berbenah

Fakta di lapangan menunjukkan infrastruktur di Arab Saudi seringkali belum melihat dari “kacamata perempuan”. Padahal, kebutuhan jemaah perempuan sangat spesifik dan berbeda dengan laki-laki.

Alissa berbagi pengalaman nyata saat bertugas di tahun 2022. Keterbatasan fasilitas memaksanya melakukan improvisasi ekstrem, termasuk mengalihkan sebagian kamar mandi laki-laki untuk jemaah perempuan demi kenyamanan.

Karena itu, ia sangat mengapresiasi kebijakan kuota 30% petugas haji perempuan tahun ini. “Kebutuhan perempuan hanya bisa dipahami secara utuh oleh sesama perempuan. Jangan anggap kebutuhan itu merepotkan, itu adalah kebutuhan riil yang harus dilayani,” ujarnya.

3. Tinggalkan Pendekatan “Kaku ala Militer”

Melayani tamu Allah, terutama lansia, tidak bisa dilakukan dengan gaya komando yang kaku. Alissa memperingatkan bahwa pendekatan militeristik yang menutup ruang improvisasi justru bisa menghambat kualitas layanan.

“Melayani jemaah haji butuh adaptasi cepat. Kalau terlalu satu garis komando dan tidak fleksibel, itu justru menyulitkan,” jelas mantan Amirul Hajj Perempuan (2023-2024) ini. Petugas di lapangan harus berani mengambil keputusan cepat, seperti skema pemulangan jemaah lansia dari Mina ke hotel tanpa membebani jemaah lain.

Kesimpulan: Siapkan Hati, Bukan Cuma Fisik

Menutup materinya, Alissa berpesan kepada seluruh calon petugas haji 2026. Kesiapan fisik memang wajib, tetapi kesiapan mental dan spiritual adalah kunci.

Kehadiran petugas yang responsif dan penuh empati adalah sumber rasa aman terbesar bagi para lansia dan perempuan yang sedang berjuang menyempurnakan rukun Islam kelima mereka.


Ide Judul Alternatif untuk Sosial Media:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *