Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mulai memperketat pengaturan aktivitas jemaah menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Salah satu kebijakan terbaru yang diterapkan adalah pembatasan umrah sunnah maksimal tiga kali sebelum fase Armuzna dimulai.
Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga kondisi fisik jemaah tetap prima menghadapi rangkaian ibadah haji yang dikenal sangat padat dan menguras stamina.
Selain pembatasan umrah sunnah, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) juga diminta membatasi kegiatan city tour selama jemaah berada di Kota Makkah.
PPIH Minta Jemaah Fokus Persiapan Menuju Puncak Haji
Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Bimbad) dan KBIHU PPIH Arab Saudi Daker Makkah, Erti Herlina, meminta seluruh pimpinan dan pembimbing KBIHU mematuhi aturan yang telah ditetapkan pemerintah Arab Saudi dan PPIH.
“Kami mengimbau untuk tetap mengikuti aturan yang sudah kami tetapkan di Arab Saudi terkait kegiatan city tour dan juga umrah sunnah,” ujar Erti Herlina kepada Media Center Haji di Makkah.
Menurutnya, pembatasan ini bertujuan agar jemaah tidak mengalami kelelahan sebelum memasuki fase Armuzna yang menjadi inti pelaksanaan ibadah haji.
Erti menegaskan para pembimbing haji harus terus memberikan edukasi kepada jemaah mengenai pentingnya menjaga stamina dan kesehatan selama di Tanah Suci.
“KBIHU hanya mengizinkan pelaksanaan umrah sunnah sebanyak tiga kali, maksimal tiga kali pra Armuzna,” jelasnya.
City Tour ke Luar Makkah Dilarang Sebelum Armuzna
Tak hanya membatasi umrah sunnah, PPIH juga melarang kegiatan city tour ke luar Kota Makkah sebelum fase Armuzna berlangsung.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor S-88/BN/2026 tentang Larangan Pelaksanaan Ziarah (City Tour) Bagi Jemaah Haji Sebelum Fase Armuzna Tahun 1447 H/2026 M.
Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa fase Armuzna membutuhkan kesiapan fisik yang optimal karena jemaah akan menjalani serangkaian ibadah dengan mobilitas tinggi dan kondisi cuaca ekstrem.
Karena itu, aktivitas tambahan di luar ibadah inti dinilai berisiko menguras tenaga jemaah.
Fokus pada Kesiapan Fisik, Mental, dan Spiritual
Kementerian Haji dan Umrah RI meminta seluruh pendamping dan pembimbing haji lebih fokus mendampingi kesiapan fisik, mental, dan spiritual jemaah menjelang puncak ibadah haji.
PPIH mengingatkan bahwa kondisi kesehatan jemaah menjadi prioritas utama agar seluruh rangkaian ibadah di Armuzna dapat dijalankan dengan lancar.
Dengan cuaca panas ekstrem dan kepadatan jutaan jemaah di Tanah Suci, menjaga energi sebelum Armuzna dinilai sangat penting.
Semua Kegiatan Jemaah Wajib Dilaporkan ke PPIH
PPIH juga menegaskan bahwa setiap kegiatan yang digelar KBIHU, baik umrah sunnah maupun city tour di dalam Kota Makkah, wajib dikoordinasikan dengan petugas sektor dan PPIH.
“Bagi para pimpinan KBIHU dan pembimbing ibadah yang akan melaksanakan umrah sunnah maupun city tour di dalam Kota Makkah, mohon untuk membuat surat pernyataan yang ditembuskan kepada Kasektor,” ujar Erti.
Surat tersebut wajib memuat tujuan kegiatan serta jumlah jemaah yang mengikuti aktivitas agar lebih mudah dipantau petugas.
Selain itu, pimpinan KBIHU diminta memastikan keamanan dan kondisi kesehatan jemaah selama kegiatan berlangsung di Tanah Suci.
Jemaah Diimbau Tidak Memaksakan Diri
PPIH kembali mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri melakukan aktivitas berlebihan menjelang Armuzna.
Meski umrah sunnah dan ziarah menjadi salah satu aktivitas favorit jemaah selama di Makkah, kondisi fisik tetap harus menjadi prioritas utama agar ibadah haji dapat dijalankan dengan sempurna.
Dengan pengaturan aktivitas yang lebih ketat, diharapkan seluruh jemaah Indonesia dapat menjalani puncak ibadah haji 2026 dengan aman, sehat, dan lancar.

